10.14.2008

DAMPAK KETERBATASAN SDM PROFESIONAL, LAPORAN TERLAMBAT; Dana BOS Cair Digunakan untuk Mengganti Dana Talangan

YOGYA(KR) - Kebijakan pemerintah yang melarang sekolah untuk memungut biaya pendidikan pada awal tahun ajaran baru menjadikan mereka menggunakan dana talangan guna mencukupi biaya operasional. Akibatnya pada saat Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk periode Juli sampai September cair langsung digunakan untuk membayar utang. Kebijakan untuk menggunakan dana talangan itu diambil dengan harapan proses pembelajaran bisa berjalan seperti target yang sudah ditentukan.

Hal itu dikemukakan oleh Kepala SDN Badran Hj Zukhriyah BA yang didampingi Bendahara sekolah Sofiatun SPdI saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (13/10).Sofiatun mengatakan, pencairan dana BOS untuk periode Juli sampai September di SDN Badran mengalami sedikit keterlambatan. Karena pihak sekolah baru menerima dana tersebut (BOS) pada 22 September 2008. Konsekuensinya untuk mencukupi biaya operasional yang dibutuhkan, sekolah terpaksa menggunakan uang dari koperasi dan dana sosial.
"Sebenarnya kalau pencairan dana BOS terlambat sekolah pinggiran seperti kami agak kerepotan. Bagaimana tidak repot jika untuk honor guru, kesiswaan, membeli alat tulis, buku dll sekolah sangat tergantung dari dana BOS. Untungnya sejak jauh-jauh hari sekolah sudah melakukan antisipasi, sehingga tidak mengganggu proses pembelajaran di kelas," kata Sofiatun.
Ditambahkannya, meski jumlahnya tidak terlalu besar, tapi bagi sekolah pinggiran seperti SDN Badran dana BOS sangat berarti untuk mencukupi biaya operasional sekolah. Hal itu dikarenakan sebagian besar siswanya berasal dari kalangan yang secara sosial ekonomi tergolong kurang mampu. Mengingat keberadaan BOS yang sangat penting bagi proses pendidikan sekolah sangat berharap agar pencairannya bisa dilakukan secara tepat waktu. Dengan begitu selain tidak perlu mencari dana talangan pelaporan bisa lebih cepat dilakukan.
"Terus terang karena di sekolah kami tidak ada Tata Usaha secara otomatis pelaporan tentang BOS langsung dihandel oleh guru. Padahal dalam membuat laporan tidak hanya dituntut cepat tapi juga ketelitian, kendati demikian kami selalu berusaha untuk tepat waktu," terangnya.
Komentar serupa juga diungkapkan oleh Kepala SMPN 11 Yogyakarta Drs Sardiyanto yang didampingi Bendahara BOS Nur Wahyumiati. Menurut mereka untuk mencukupi biaya operasional sekolah yang dikarenakan keterlambatan pencairan dana BOS pihaknya sepakat menggunakan dana saldo yang masih tersisa. Namun karena jumlahnya tidak terlalu besar secara otomatis sekolah dituntut lebih cermat.
"Mungkin untuk perlengkapan sarana prasarana bisa ditunda bulan berikutnya. Tapi untuk honorarium GTT/PTT, membeli buku pelajaran serta beberapa kebutuhan yang lain (rekening listrik dan telepon) tidak mungkin ditunda. Untungnya tahun kemarin masih ada saldo jadi tidak perlu mencari pinjaman atau menggunakan dana pribadi," paparnya.
Lebih lanjut Nur menjelaskan, jumlah penerima dana BOS di SMPN 11 Yogya ada 431 siswa. Masing-masing siswa mendapat dana sebesar Rp 29.500 yang dibagikan setiap 3 bulan sekali. Sesuai dengan kesepakatan bersama dana tersebut digunakan untuk membeli buku dan biaya pendidikan yang lain dengan harapan beban peserta didik jadi lebih ringan.
"Sebenarnya pihak sekolah sudah bekerja keras agar laporan dana BOS bisa dikumpulkan secara tepat waktu. Tapi dalam praktiknya masih mengalami berbagai hambatan karena belum ada tenaga profesional yang secara khusus menangani dana BOS," tandasnya.

Read More..

8.28.2008

Siswi Yang Kompak

Novita and Friends

Read More..

Adik Adik Penuh Semangat



Dedi dkk (Nasyid Awallun)

Read More..

8.07.2008

Butuh Kecermatan, Penyusunan RAPBS di Sekolah Belum Final

YOGYA (KR) - Kendati proses pembelajaran pada tahun ajaran 2008/2009 sudah berlangsung satu bulan lebih, tapi masih ada beberapa sekolah yang mengalami kesulitan menyusun Rancangan Anggaran Pendidikan Belanja Sekolah (RAPBS).

Adanya peraturan walikota (Perwal) yang baru menjadikan sekolah harus hati-hati dalam membuat kebijakan karena perlu sharing dengan berbagai pihak. Termasuk dalam menentukan besar kecilnya uang bulanan, biaya les serta berbagai kebutuhan sekolah yang lain. Kebijakan itu diambil dengan harapan tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Demikian dikatakan oleh beberapa Kepala Sekolah di Yogyakarta yang ditemui KR secara terpisah, Rabu (6/8). Kepala SMPN 11 Yogya Drs Sardiyanto mengatakan,
sampai dengan awal Agustus 2008 penyusunan RAPBS di sekolahnya belum final. Pasalnya untuk menyusun RAPBS sekolah tidak hanya dituntut teliti, tapi juga mempertimbangkan aspirasi dari orangtua. Misalnya dalam soal heregistrasi dan iuran bulanan sampai saat ini belum ada kesepakatan.
“Terus terang sampai saat ini kami masih bingung untuk mencantumkan heregistrasi atau tidak. Sebab tahun-tahun sebelumnya uang heregistrasi ditarik sebelum siswa masuk sekolah tidak seperti sekarang pelajaran sudah 1 bulan baru dibahas. Begitu juga besar kecilnya iuran bulanan. Supaya tidak ada pihak yang merasa dirugikan dalam waktu dekat kami berencana mengadakan musyawarah bersama komite dan orangtua,” kata Sardiyanto pada KR.
Lebih lanjut Sardiyanto menambahkan, pada prinsipnya untuk masalah pembelian seragam di SMPN 11 relatif tidak ada masalah, karena diserahkan sepenuhnya pada orangtua. Konsekuensinya jika ada siswa yang atributnya belum lengkap atau masih memakai pakaian merah putih (seragam SD) sekolah harus memberikan toleransi. Begitu juga untuk pakaian batik, model dan motifnya diserahkan sepenuhnya pada orangtua. Dengan adanya dispensasi tersebut sekolah berharap kegiatan pembelajaran di SMPN 11 bisa lebih kondusif dan lancar. “Rencananya untuk tambahan pelajaran (les) akan kami masukkan dalam RAPBS tentunya setelah dilakukan musyawarah terlebih dahulu dengan komite dan orangtua. Sebab kami khawatir jika tidak ada les di sekolah, siswa harus ikut bimbingan di luar, padahal kemampuan ekonomi mereka cukup beragam. Tahun lalu ada les di sekolah saja masih ada siswa yang tidak lulus, bagaimana kalau tidak ada les,” terang Sardiyanto pasrah.
Terpisah Kepala SMPN 4 Yogya Jazulianto SPd mengungkapkan saat ini pihaknya baru melakukan penyusunan RAPBS. Dengan Perwal yang baru ini ia harus ekstra hati-hati bahkan sharing dengan sejumlah pihak. Sebab dengan Perwal baru ini menggunakan format baru sehingga butuh pencermatan.
“RAPBS kali ini berbeda dari sebelumnya karena itu kami harus berhati-hati. Kami masih melakukan pencermatan mana yang menjadi prioritas. Tapi yang terpenting dan masuk dalam RAPBS adalah upaya untuk pengembangan sekolah dan peningkatan kualitas, misalnya kursus Bahasa Inggris dan persiapan Unas dan penambahan materi untuk kelas IX,” ucapnya.
Dikatakannya, dinas tidak memberikan batas waktu dalam menyusun RAPBS hanya saja sekolah diberi kesempatan untuk menyusun dengan cermat dan teliti. Jangan sampai RAPBS ini memberatkan sejumlah pihak, baik sekolah sendiri maupun orangtua siswa. Ia juga tidak segan-segan untuk sharing dengan sekolah lain terkait standar RAPBS dengan tetap memerhatikan kebutuhan sekolah. “Sebenarnya bukan kesulitan tapi karena menggunakan Perwal baru maka kami harus lebih cermat,” ungkap Jazulianto.
Sementara itu untuk seragam sekolah ia menyerahkan sepenuhnya kepada wali murid sebab sekolah tidak melakukan pengadaan seragam. Namun jika orangtua kesulitan bisa dilayani di koperasi. Dalam hal seragam, pihak sekolah fleksibel dan tidak memaksa sehingga orangtua bebas untuk menentukan apakah mau membeli sendiri atau lewat koperasi.

Read More..

7.03.2008

CASIS TERLAMBAT TERIMA IJAZAH; Sekolah Beri Dispensasi Pendaftaran

YOGYA (KR) - Sejumlah sekolah di Kota Yogyakarta memberlakukan dispensasi bagi calon siswa baru yang hendak mendaftar ke jenjang sekolah lebih tinggi. Dispensasi tersebut diberikan bagi calon siswa baru yang belum memperoleh ijazah. Konsekuensinya siswa yang bersangkutan harus bisa menunjukkan surat keterangan lulus dari sekolah. Demikian keterangan dari beberapa kepala sekolah yang dihimpun KR Rabu (2/7).Kepala SMAN 4 Yogya, Drs Suradi MPd mengatakan, untuk bisa mendaftar di sekolahnya siswa baru diminta menunjukkan Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional (SKHUN) asli yang berisi daftar nilai hasil Unas. Karena belum ada petunjuk solusinya dari Dinas Pendidikan terkait dengan lulusan SMP yang belum mendapat SKHUN.

“Paling tidak harus ada surat keterangan asli dari sekolah yang meluluskannya,” kata Suradi.
Belum adanya petunjuk pemecahan masalah itu menurutnya karena kejadian yang tidak terduga. Tidak diperhitungkan sebelumnya. Tetapi sebetulnya pada ijazah juga ada nilai hasil Unas selain nilai dari ujian sekolah. Nilai hasil Unas yang tercantum pada ijazah harus sama dengan nilai hasil Unas yang ada pada SKHUN. Surat keterangan asli dari sekolah yang meluluskan dimaksudkan untuk menghindari penyalahgunaan SKHUN.
“Membuat surat seperti itu tidak lama, di SMP ada petugas administrasi yang bisa mengerjakan,” tambah Suradi.
Terkait dengan penerimaan siswa baru tahun ini, SMAN 4 berencana menerima siswa untuk 6 kelas yang masing-masing kelas terdiri dari 36 siswa. Pendaftaran dimulai dilakukan tanggal 3-5 Juli 2008.
Komentar serupa juga diungkapkan oleh Kepala SMP 11 Yogya Drs Sardiyanto. Menurutnya dalam pendaftaran peserta didik baru (PPDB) tahun ajaran 2008/2009 calon siswa (Casis) baru diminta menunjukkan SKHUN asli dan yang telah dilegalisir, kartu keluargai(C1) serta beberapa persyaratan yang lain. Namun jika dalam praktiknya ada peserta didik yang belum bisa menunjukkan SKHUN asli pihaknya berencana memberikan dispensasi. Dengan catatan casis bisa menunjukkan keterangan dari sekolah asal.
“Sebagai pelaksana di lapangan saya akan berusaha memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat. Termasuk memberikan dispensasi bagi mereka yang belum mendapatkan SKHUN, dengan catatan ada surat keterangan dari sekolah asal. Dengan adanya kebijakan tersebut pihaknya berharap terjadinya penyalahgunaan SKHUN bisa dihindari,” katanya.
Lebih lanjut Sardiyanto menambahkan, SKHUN di SMP 11 Yogya baru dibagikan kemarin, karena masih ada beberapa siswa yang melakukan cap tiga jari. Meski pembagian SKHUN cukup mepet dengan waktu pendaftaran dirinya optimis tidak akan menyulitkan para lulusan. Pasalnya selain waktu pendaftaran cukup panjang, berdasarkan pengalaman yang ada pada hari pertama casis baru sekadar mencari informasi belum memasukkan formulir.
“Meski perkembangan nilai bisa dipantau lewat internet, alangkah baiknya jika orangtua tetap selektif dalam menentukan pilihan sekolah. Sebab jika mereka tidak cermat, bisa-bisa nilai bagus tidak mendapat sekolah negeri,” terangnya.
Terpisah Kepala SMA N 6 Yogya, Drs Rubiyanto mengutarakan, pembagian ijazah dilakukan Senin (30/6) lalu. Meski begitu, dari 8 kelas, masih ada sekitar satu kelas yang belum mengambil ijazah tersebut. Hal ini dikarenakan siswa belum memenuhi syarat administrasi dan bebas perpustakaan.
“Ijazah sudah dibagikan,” kata Rubiyanto. Menurut dia, pembagian ijazah tahun ini memang sedikit mengalami keterlambatan dibandingkan dengan tahun lalu. Kondisi ini disebabkan oleh pembagian dan pengadaan blangko ijazah dari Dinas Pendidikan yang sudah terlambat.
Meskipun pembagian ijazah mengalami keterlambatan, namum pihak SMA N 6 Yogya sudah melakukan antisipasi agar kebutuhan siswa untuk mendaftar ke perguruan tinggi tidak terhambat dengan menerbitkan surat keterangan lulus. “Kebutuhan siswa tetap diprioritaskan,” ujar Rubiyanto.
Humas SMAN 6 Yogya Drs Suhadi Mudjono mengutarakan, bagi calon siswa yang hendak mendaftar namun ijazahnya belum keluar akan tetap dilayani dengan catatan membawa surat keterangan yang bisa dipertanggungjawabkan.

Read More..

7.01.2008

Akses Internet, PC Kena Virus. Kok Bisa???

Akses internet artinya kita bertukar informasi dengan dunia luar karena setiap kita browsing, kita akan mengirimkan request ke webserver. Kemudian webserver akan mengirimkan hasil dari request yang kita minta. Saat ini virus dapat menyebar melalui content dari suatu website dan tanpa sadari malware seperti spyware dan trojan akan masuk ke PC.

Spyware dan trojan ini yang membuka celah (backdoor) sehingga virus lain dapat dengan mudah masuk ke PC kita Apalagi jika kita menggunakan aplikasi yang bersifat freeware dan shareware kemungkinan untuk terserang virus akan sangat besar jika di dalam PC kita pada saat kita melakukan browsing tidak dilengkapi dengan tools security yang dapat menghindarkan dari virus dan serangan yang lain.

Disaran menggunakan tools security seperti Internet Security yang sudah mencakup perlindungan terhadap anti-spyware, anti-trojan, serta anti-rootkit. Akan lebih baik jika dalam 1 komponen anti-virus selain mempunyai perlindungan seperti diatas juga harus memiliki personal firewall, aplikasi control dan parental control.

Read More..

8.28.2007

Palang Merah Remaja

Setiap Senin
12.00-13.30 SMP NEGERI 11 YOGYAKARTA
PMR Bersama Pak Heru Laksono

Read More..

Sang Guru Komputer

Nama : Istiardi, S.ST
Alamat : Joho Jambidan Banguntapan Bantul
Jabatan : Guru TIK
Motto : Tetap Semangat
Hobby : About Computer
E-mail : ist_ardi@yahoo.com

bersambung ................

Read More..

Logo Perisai


SMP Negeri 11 Yogyakarta

Read More..

6.01.2007

Sekolah Sehat dan Sekolah Sakit

Sekolah sebagai sebuah organisasi dituntut untuk dapat memecahkan: (1) masalah tentang bagaimana memperoleh sumber daya yang mencukupi dan dapat menyesuaikan dengan tuntutan lingkungannya, (2) masalah tentang upaya-upaya pencapaian tujuan pendidikan di sekolah, (3) masalah pemeliharaan solidaritas, dan (4) masalah upaya menciptakan dan mempertahankan keunikan nilai yang dkembangkan di sekolah... Keempat hal di atas menjadi kerangka acuan dalam mengembangkan sekolah sehat. Sekolah sehat pada dasarnya merupakan bagian dari kajian tentang iklim sekolah atau budaya sekolah, yang di dalamnya membicarakan tentang kemampuan sekolah untuk mempertahankan kelangsungan hidup organisasi sekolah dan kemampuan sekolah dalam mengatasi berbagai tekanan eksternal yang dapat mengganggu terhadap pencapaian tujuan pendidikan di sekolah. Dalam bukunya yang berjudul Educational Administration, Wayne K. Hoy dan Cecil G. Miskel (2003) memaparkan tentang kriteria sekolah sehat, yang terbagi ke dalam tiga level dan tujuh dimensi, yang dijadikannya sebagai kerangka penyusunan Organizational Helath Inventory (OHI).

A.Level Lembaga, Level lembaga merupakan level yang berkaitan dengan hubungan organisasi dengan lingkungannya. Hal ini penting untuk kepentingan legitimasi dan dukungan masyarakat terhadap sekolah.
1.Institutional IntegrityInstitutional integrity merujuk kepada keutuhan segenap program pendidikan di sekolah. Sekolah tidak menjadi sasaran empuk dan mampu melindungi diri secara sukses dari berbagai serangan dan tekanan kekuatan eksternal yang merugikan.

B. Level ManajerialLevel manajerial merujuk kepada kegiatan untuk menjembatani dan mengendalikan usaha-usaha internal organisasi sekolah. Kepala sekolah merupakan petugas adminitratif yang utama di sekolah, yang harus dapat menemukan cara-cara terbaik untuk mengembangkan loyalitas, kepercayaan dan motivasi guru, serta dapat mengkoordinasikan setiap pekerjaan di sekolah.
2. Principal InfluencePrincipal influence merujuk kepada kemampuan kepala sekolah untuk mempengaruhi tindakan para atasan. Kepala sekolah dapat bertindak persuasif, bekerja secara efektif dengan atasan, dan menunjukkan kemandiriannya (independensi) dalam berfikir dan bertindak.
3. ConsiderationConsideration merujuk pada perilaku kepala sekolah yang bersahabat, suportif, terbuka dan kolegial.
4. Initiating StructureInitiating Structure merujuk pada perilaku kepala sekolah yang berorientasi pada tugas dan prestasi. Kepala sekolah memiliki sikap dan ekspektasi yang jelas tentang prosedur dan standar kinerja bawahannya (guru).
5.Resource Support Resource Support merujuk pada ketersediaan bahan-bahan atau perlengkapan yang diperlukan dan digunakan untuk kepentingan pembelajaran di kelas secara memadai.

C. Level Teknis Level teknis berkaitan dengan proses belajar mengajar dan tanggung jawab guru terhadap pendidikan siswa sebagai produk sekolah.
6. MoraleMorale merujuk pada rasa saling percaya, percaya diri, semangat, dan persahabatan yang diperlihatkan para guru dan Para guru memiliki kepekaan terhadap pencapaian prestasi kerjanya.
7. Academic EmphasisAcademic Emphasis merujuk pada usaha sekolah untuk menekankan pencapaian prestasi, khususnya prestasi akademik para siswanya. Lingkungan pembelajaran ditata secara sungguh-sungguh. Guru-guru merasa yakin terhadap kemampuan siswanya untuk meraih prestasi, para siswa bekerja keras dan pemberiaan penghargaan kepada setiap orang yang mampu menunjukkan prestasi akademiknya.

Kebalikan dari sekolah sehat adalah sekolah tidak sehat, Fred C. Lunenburg dan Allan C. Ornstein (2004) menyebutnya sebagai ”Sekolah Sakit” Ciri-ciri sekolah yang tidak sehat atau sakit adalah : Pada level lembaga, sekolah mudah diserang oleh kekuatan-kekuatan luar yang bersifat destruktif (merusak). Kepala sekolah, guru-guru dan staf tata usaha diberondong hal-hal yang tidak rasional oleh orang tua dan kelompok masyarakat tertentu dan sekolah tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi tekanan-tekanan tersebut.
Pada level manajerial, kepala sekolah tidak mampu menyediakan kepemimpinannya secara memadai, dalam arti kurang memberikan pengarahan, perhatian dan dukungan terhadap guru yang rendah, bekerja di bawah tekanan atasan.

Pada level teknis, moral atau semangat kerja guru sangat rendah, para guru kurang memperhatikan tentang pekerjannya. Mereka bertindak sendiri-sendiri, saling curiga, dan defensif (selalu mempertahankan atau membela diri). Dalam upaya mencapai keunggulan akademik sangat terbatas. Singkatnya, bahwa dalam sekolah sakit, setiap orang akan berfikir dan bertindak “bagaimana nanti”

Sumber :Fred C. Lunenburg dan Allan C. Ornstein .2004. Educational Administration : Concepts and Practices. Singapore : Wadsworth.Wayne K. Hoy dan Cecil G. Miskel. 2003. Educational Administration : Theory, Research and Practice, Singapore : McGrawHill

Read More..

1.30.2007

PERPUSTAKAAN SEKOLAH MASIH JADI ANDALAN; Beberapa Sekolah Keluhkan Minimnya Buku


YOGYA (KR) - Keberadaan perpustakaan sekolah sebagai penyedia buku untuk siswa, sampai sekarang masih menjadi andalan. Keberadaannya dirasa sangat membantu siswa untuk memperoleh tambahan ilmu pengetahuan. Namun, fungsi perpustakaan yang demikian besar belum diimbangi dengan sarana dan prasarana yang representatif. Beberapa sekolah yang ditemui KR secara terpisah, Rabu (14/12) mengeluhkan minimnya koleksi buku sehingga siswa harus antre untuk membaca buku tertentu.

Di SMA Gotong Royong Yogya misalnya. Saat ini baru memiliki sekitar 200 koleksi buku. Jumlah tersebut masih belum bisa memenuhi kebutuhan siswa. Wakil Kepala SMA Gotong Royong A Lisa ST mengatakan, minat baca siswa saat ini sudah lumayan bagus. Tetapi karena minimnya dana yang ada, pihak sekolah belum bisa menyediakan koleksi buku yang memenuhi standar, sesuai dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).

“Dengan diberlakukannya KBK otomatis buku-buku lama tidak bisa terpakai lagi. Sementara jumlah buku yang baru masih sangat terbatas karena bagi sekolah kecil anggaran untuk membeli buku sangat minim,” kata A Lisa.

Pihaknya merasa dilematis dengan Surat Keputusan Dinas Pendidikan yang melarang sekolah melakukan pengadaan buku. Karena kenyataannya pemerintah sendiri tidak mampu memenuhi kebutuhan buku para siswa. Sekolah hanya diberi 1-2 buku untuk tiap mata pelajaran. Sehingga hanya cukup untuk pegangan guru dan satunya lagi disimpan di perpustakaan. Dengan kondisi seperti ini siswa terpaksa harus antre untuk membaca buku. Kondisi semakin bertambah parah karena datangnya buku ke sekolah sering terlambat. Akibatnya, proses belajar mengajar menjadi terhambat.

Sedangkan jika mengharuskan siswa membeli buku jelas tidak mungkin. Selain bertentangan dengan SK, mayoritas siswa di situ berasal dari keluarga kurang mampu. Dilanjutkan, dengan berbagai kendala tersebut, pihak sekolah tetap berusaha menumbuhkan minat baca siswa. Antara lain dengan memberikan tugas kepada siswa yang jawabannya bisa dicari di buku. Dengan begitu siswa dipaksa untuk membaca.

Di tempat terpisah Kepala Sekolah SMP Negeri 11 Yogyakarta Drs Sardiyanto mengemukakan, selain terbatasnya buku-buku bacaan yang ada di perpustakaan, sekolah juga menghadapi kesulitan terbatasnya tenaga pustakawan yang ada di sekolah-sekolah. Untuk mengatasi persoalan tersebut, pihaknya terpaksa memanfaatkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk menambah koleksi buku yang ada di perpustakaan.

Termotivasi

“Pada prinsipnya saya tidak keberatan dengan adanya larangan dari pemerintah soal keterlibatan sekolah dalam pengadaan buku. Tapi jika kebijakan tersebut tidak diimbangi dengan pengadaan buku yang memadai, saya khawatir selain minat baca menjadi rendah. Kualitas pendidikan yang ada di Indonesia akan mengalami kesulitan untuk bersaing dengan bangsa lain. Untuk itu sebagai pendidik saya hanya bisa berharap agar pemerintah lebih memperhatikan keberadaan perpustakaan yang ada di sekolah-sekolah. Sebab jika dikaji secara mendalam baik buruknya kualitas pembelajaran ditentukan oleh sarana dan prasarana yang ada di perpustakaan,” kata Sardiyanto.

Sardiyanto menambahkan, selain pemerintah, sekolah juga mempunyai peranan yang cukup penting dalam menumbuhkan minat baca di kalangan siswa. Sebab sebaik apapun sarana dan prasarana yang disediakan oleh pemerintah. Tapi jika tidak diimbangi dengan sikap proaktif dari pihak sekolah akan menjadi sia-sia.

“Untuk menarik minat baca siswa selain buku-buku pelajaran kami juga menyediakan buku fiksi dan cerita rakyat. Dengan adanya buku-buku tersebut kami berharap siswa akan termotivasi untuk berkunjung ke perpustakaan. Jika hal itu bisa terwujud selain minat baca jadi meningkat, perpustakaan akan menjadi tempat belajar yang menyenangkan,” tambahnya.

Di SMK Negeri 6 Yogya, buku-buku yang disediakan memang sebagian besar adalah buku paket pelajaran yang merupakan buku wajib siswa. Tapi, ada juga buku-buku di luar pelajaran yang bisa dipakai untuk tambahan referensi siswa. “Tiga jurusan di sini masing-masing tata boga, tata busana dan tata kecantikan relatif sudah ada semua buku yang diperlukan,” kata petugas perpustakaan SMK Negeri 6 Yogya, Suprapto, kepada KR Rabu (14/12).

Perputaran buku sendiri, jelas Suprapto selama ini cukup tinggi. Dalam sehari, sirkulasi buku yang dipinjam siswa bisa mencapai 60 buku. Tapi itu masih belum termasuk buku-buku yang dibaca siswa di perpustakaan dan tidak dibawa pulang. “Kadang saat jam-jam pelajaran, ada juga siswa yang pinjam buku untuk dibaca di kelas atau di perpustakaan ini dan tidak dibawa pulang,” jelasnya.

Untuk dana pembelian buku-buku baru, selama ini dipenuhi dari iuran siswa dan sumbangan dari luar. Iuran siswa yang berasal dari siswa kelas satu ini masih ditambah lagi beberapa buku paket yang diperoleh dari dinas Pendidikan dan Pengajaran Kota Yogya. Kadang, ada juga sumbangan dari mahasiswa yang melakukan praktik di sekolah ini. “Kalau dulu sumbangan juga berasal dari siswa kelas 3 yang akan lulus. Tapi sumbangan itu sudah beberapa tahun terakhir dihilangkan,” ujar Suprapto.

Selain mengandalkan iuran dan sumbangan dari pihak luar, sekolah juga menjadikan denda terlambat mengembalikan buku, sebagai sumber dana untuk pembelian buku. Bagi peminjam yang terlambat mengembalikan buku, dikenakan denda Rp 100/ hari. Uang denda itu dikumpulkan yang kemudian dipakai untuk menambah referensi buku yang ada.

Karya Sastra

Senada juga dikatakan Kepala SMPN 1 Bantul, Drs Supriyanto, keberadaan perpustakaan sangat mendukung untuk membantu pembelajaran siswa terutama yang sudah mengikuti kurikulum 2004. Karena di sini siswa dituntut pembelajaran kontekstual yang bisa mengkaji satu masalah pokok pada satu pelajaran. Hal ini tidak bisa jika hanya didapat dari satu sumber saja melainkan sumber-sumber pendukung lain sangat dibutuhkan.

“Di sinilah peran perpustakaan untuk bisa menyediakan referensi lain selain buku yang dipakai sehari-hari, bisa berupa compact disc, essai atau karya-karya ilmiah. Sebenarnya minat baca siswa sudah bagus hanya saja koleksi-koleksi selain buku, seperti referensi, karya sastra, novel klasik masih belum mencukupi,” terangnya.

Untuk memudahkan akses perpustakaan sistem terbuka yang digunakan saat ini di SMPN 1 Bantul dirasa masih kurang representatif. Tahun ajaran mendatang, pihaknya akan mengupayakan untuk akses perpustakaan dengan sistem on line sehingga memudahkan petugas maupun siswa.

Kepala SMA N 2 Yogyakarta Drs Timbul Mulyono, mengatakan, minat baca siswa di perpustakaan sekolah selama ini masih cukup tinggi, dalam satu bulan rata-rata pengunjungnya mencapai ratusan. Bahkan sejak Juli hingga November ini, jumlah pengunjung mampu mencapai 4.575 siswa.

“Minat siswa untuk membaca dan meminjam buku-buku untuk menunjang pelajarannya, masih cukup tinggi. Sepertinya siswa malah mengandalkan perpustakaan sekolah untuk melengkapi dan meningkatkan pemahaman dari bidang studi yang diajarkan gurunya,” jelas Timbul.

Dikatakan Timbul, untuk lebih memotivasi minat baca siswa, koleksi buku terus ditambah sesuai dengan kebutuhan, terutama buku-buku pelajaran berbasis kompetensi. Selain itu juga dilengkapi dengan buletin, koran-koran, sehingga siswa bisa mengakses informasi yang aktual setiap harinya.

“Meski terlihat bagus, tetapi kami masih belum puas, karena perpustakaan belum bisa on line, ke depan, setelah gedung yang lebih luas selesai dibangun, perpustakaan akan dilengkapi dengan fasilitas elektronik untuk on line, agar siswa bisa mengakses ilmu, artikel yang lebih luas lagi,” ungkap Timbul.

Untuk meningkatkan kualitas agar selalu up to date, perpustakaan disediakan anggaran sebesar Rp 17.000.000 dari RAPBS dan Rp 5.000.000 dari pemerintah.

“Selama ini kerja sama dengan Perpustakaan Daerah selalu dilakukan, namun demikian perhatian pemerintah terhadap keberadaan perpustakaan sekolah masih kurang. Kami berharap pemerintah lebih memperhatikannya karena penting untuk peningkatan mutu pendidikan, baik sekolah maupun siswa,” katanya.

Di Taman Dewasa (SMP) Perguruan Taman Siswa, Jetis, minat baca anak-anak menunjukkan peningkatan dibanding tahun 2004. Menurut petugas perpustakaan Sukesti AMd dan Dwi Putri Dani AMd koleksinya ada ratusan judul, baik buku paket pelajaran maupun bacaan fiksi. (Tim KR)-o.

thx » arif's blog

Read More..

1.01.2007

Sejarah Kepala Sekolah

Sejak bernama SMP Negeri 11 Yogyakarta :
1. Bapak Muslan
2. Bapak Abdul Manan, B.A.
3. Bapak Drs.Sudarman
4. Bapak S.Parjoto
5. Bapak Drs.Kusmiarto
6. Bapak Drs.Marmo Sukidjo

7. Bapak Drs.Sardiyanto
.

Read More..
Template by : kendhin x-template.blogspot.com